Air Mata


Oleh : Umi Nurtri Ratih

”Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka
bertambah khusyuk.” (QS Al-Israa [17]: 109).

Seringkali, ketika sesuatu terjadi di luar rencana, harapan dan keinginan
lewat tak tertangkap barulah manusia mengingat Dia. Sadar dirinya tak mampu
berbuat apa-apa, jika Allah sudah berkehendak. Saat itu biasanya manusia
menangis atau berkeinginan untuk menangis. Namun, tak lama bila ada harapan
dan keinginan yang terwujud, maka tertawalah ia dan lupa lagi kepada Sang
Pemberi Harapan.

Amat biasa, manusia menangis, melelehkan air matanya, ketika merasa hancur,
tujuannya gagal, harapannya kabur, dan cita-citanya berantakan. Atau,
apabila yang telah diupayakannya mengalami kebuntuan. Menangis adalah cara
Allah menunjukkan kekuasaan dan kemahabesaran-Nya. Air mata itu mungkin saja
diciptakan untuk menyadarkan manusia agar senantiasa mengingat-Nya.
Titik-titik air bening dari kelopak mata itu bisa jadi adalah teguran Allah
terhadap riak kenistaan yang kerap mewarnai kehidupan ini.

Seperti Allah menurunkan hujan dari gumpalan awan untuk membasahi bumi dari
kekeringan hingga tumbuh sayur segar dan buah yang ranum. Seperti itulah
barangkali tangis manusia akan membasahi kekeringan hati dan melelehkan
kerak kegersangan agar menghadirkan kembali wajah Dia yang mengiringi setiap
langkah selanjutnya.

Semestinya, tangisan meluluhkan bongkah-bongkah keangkuhan dalam dada,
hingga timbul kesadaran hanya Dia yang berhak berlaku sombong. Air mata itu
akan melelehkan pandangan mata dari meremehkan orang lain dan semakin
menjernihkan kacamata untuk lebih bisa melihat kemahabesaran dan kekuasaan
Allah. Titik-titik bening itu akan membersihkan debu-debu pengingkaran yang
menyesaki kelopak mata yang menjadikan sering kali lupa bersyukur atas
nikmat pemberian-Nya.

Semestinya pula, melelehkan air mata membuat hati tetap basah oleh
ke-tawadlu-an, qona’ah, dan juga cinta terhadap sesama. Air mata menjadi
penyadar bahwa apa pun yang kita upayakan semua tergantung pada-Nya. Tak ada
yang patut disombongkan pada diri di hadapan sesama apalagi di hadapan Dia.
Air mata akan mengantarkan kita pada kekhusyukan.

Bersyukurlah bila masih bisa meneteskan air mata. Namun, air mata menjadi
tak ada artinya jika setelah tetes terakhir, tak ada perubahan apa pun dalam
langkah kita. Tak akan ada hikmahnya, bila kesombongan masih menjadi baju
utama kita. Wallahu a’lam bish-shawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: