Amarah


Oleh : Rifqi Fauzi

”Bukanlah orang yang kuat itu adalah seorang pegulat, namun yang disebut
orang kuat adalah mereka yang bisa mengendalikan amarahnya.” (HR Bukhari
dan Muslim).

Empat belas abad yang lalu Rasulullah SAW secara tegas telah menyebutkan
bahwa seorang pemarah merupakan seorang yang lemah. Lemah mengadung arti
baik secara fisik ataupun mental. Menurut ahli kesehatan jiwa, Dr Guy A
Pettitt, dalam artikelnya Forgiveness and Health, secara fisik marah yang
berkepanjangan berdampak pada stres dan urat-urat menjadi tegang. Akibatnya,
akan timbul rasa sakit di bagian leher, punggung, dan lengan.

Begitupun sirkulasi darah ke jantung dan anggota tubuh lainnya menjadi
terhambat, sehingga kandungan oksigen dan nutrisi dalam sel berkurang,
pecernaan dan pernapasan juga akan terganggu. Sistem kekebalan tubuh pun
melemah, sehingga tubuh menjadi sangat rawan terserang penyakit.

Secara mental, marah berdampak sangat fatal terhadap kejiwaan seseorang,
karena dengan marah, terkadang seseorang tidak bisa mengontrol diri.
Sehingga, sangat memungkinkan untuk berbuat sesuatu di luar kendalinya,
seperti mencaci, memukul, bahkan mungkin membunuh.

Allah SWT mengajarkan kepada hambanya untuk bersikap gampang memaafkan
kesalahan seseorang, sebagaimana Allah SWT sangat gampang mengampuni
dosa-dosa hambanya. Malah, Allah SWT mencela orang yang suka marah dengan
menyebutnya sebagai orang bodoh. Sebagaimana firman-Nya, ”Jadilah pemaaf
dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta jangan pedulikan
orang-orang yang bodoh.” (QS Al-A’raf [7]:199).

Dr Frederic Luskin dalam bukunya Forgive for Good sebagaimana yang dikutip
Harun Yahya, menjelaskan sifat pemaaf sebagai resep yang telah terbukti bagi
kesehatan dan kebahagiaan. Buku tersebut memaparkan bagaimana sifat pemaaf
memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran seperti harapan, kesabaran,
dan percaya diri, sehingga akan mengurangi kemarahan, penderitaan, lemah
semangat, dan stres.

Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW, ”Tidaklah kelemahlembutan itu
berada pada sesuatu kecuali akan membuatnya indah, dan tidaklah kelembutan
itu dicabut kecuali akan menjadikannya jelek.” (HR Muslim). Maka, kalau
ingin hidup sehat, jadilah seorang pemaaf. Wallahu a’lam bi ash-Shawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: