Penghalang Hidayah


Oleh : Sholehan Latundo

Menurut Alquran, ada tiga faktor umum penyebab ketergelinciran manusia pada
keburukan. Tiga hal inilah yang menghalangi manusia mendapatkan hidayah atau
keuntungan spiritual.

Pertama adalah hawa nafsu (nafsu amarah). Menuruti semua keinginan dan
memenuhinya tanpa pertimbangan akal dan tidak memperhitungkan dampak serta
pengaruhnya terhadap kebahagiaan dan kesengsaraan manusia. Menuruti insting
seperti itu berarti menuruti kecenderungan hewani (bahimiyah).

Pertarungan melawan gejolak hawa nafsu adalah perjuangan besar. Pertarungan
ini secara terus-menerus berlangsung di dalam diri kita. Dan, seringkali
nafsu amarah ini mampu menundukkan dan mengendalikan manusia. Mawlawi dalam
sebuah syairnya mengisyaratkan, ”Nafsu tidak ubahnya ular, dia baru diam,
tatkala telah penuh kesedihan.”

Kedua, adalah dunia. Sikap dan pandangan keliru manusia terhadap dunia
merupakan salah satu faktor penyimpangan manusia. Menjadikan dunia sebagai
tujuan akhir, seraya melalaikan kebahagiaan abadi dan kehidupan akhirat.

Dunia menipu dan menyibukkan manusia. Jika manusia tenggelam di dalam dunia,
maka dia tidak ubahnya seperti orang yang menyelam di lautan kehinaan dan
kelemahan, dia akan terus menyelam waktu demi waktu hingga akhirnya sampai
pada kematian. Dia tidak ubahnya seperti ulat sutra yang memintal benang di
sekelilingnya hingga akhirnya mati tercekik.

Firman Allah SWT, ”Wahai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar,
maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu dan janganlah
sekali-kali syaitan yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah (QS
Fathir [35]: 5). Terakhir yang menghalangi manusia dari petunjuk adalah
setan. Dari sudut pandang Alquran, para setan (iblis dan pengikutnya) adalah
entitas nyata yang selalu berusaha menyesatkan dan mendorong manusia ke
jurang keburukan.

Firman Allah SWT, ”Iblis menjawab, karena Engkau telah menghukum saya
karena tersesat, saya benar-benar akan (menghalangi) mereka dari jalan
Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan
belakang, dari kanan dan dari kiri. Dan Engkau tidak mendapati kebanyakan
mereka bersyukur.” (QS Al-A’raf [7]: 16-17).

Iblis merealisasikan cita-citanya lewat hawa nafsu dan keteperdayaan manusia
akan kehidupan dunia semata. Maka, siapa yang terlena dengan kehidupan
dunia, kita tahu dengan siapa dia akan berkumpul nantinya di akhirat. Naudzu
billahi min zalik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: