‘Ujub


Sahabat Ali bin Abi Thalib berkata, ”Keburukan (sayyi’ah) yang
menyebabkanmu gundah gulana, lebih baik di sisi Allah, daripada kebaikan
(hasanah) yang menyebabkanmu ‘ujub (berbangga diri).

Ada dua poin dalam kalimat mutiara tersebut. Pertama, perbuatan tercela
(selain dosa besar), tetapi membuat sang pelaku gundah, tidak tenang, serta
menyesal, dapat menjadi sugesti untuk bertobat. Kedua, perbuatan terpuji,
tetapi menyebabkan sang pelaku menjadi sombong. Menurut sepupu Nabi SAW
tersebut, ”Yang pertama lebih baik daripada kedua.”

‘Ujub adalah sifat terlalu membanggakan diri, sehingga individu lain
dipandang rendah, lemah, dan buruk. Seperti perkataan iblis, ”Saya lebih
baik dari Adam, Engkau menciptakan aku dari api, sedangkan Adam Engkau
ciptakan dari tanah.” (QS Al-A’raf [7]: 12).

‘Ujub adalah penyakit jiwa dan hati, yang seringkali menjangkiti orang-orang
yang dikaruniai harta melimpah, jabatan bergengsi, tubuh sempurna, ilmu
luas, gelar tinggi, dan wajah rupawan. ‘Ujub juga bisa menjangkiti seseorang
yang ilmu agamanya luas. Intinya, siapa pun bisa terserang ‘penyakit’ ini.

Nabi Muhammad SAW bersabda, ”Tiga perkara yang membuatmu hancur adalah
kikir, mengikuti hawa nafsu, dan sifat membanggakan diri.” Hujjatul Islam,
Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghozali mengatakan, ”Sifat sombong dan
‘ujub mampu menghapus segala bentuk keutamaan dan bisa merendahkan diri.”
Sebanyak apa pun sedekah kita, bila dilakukan dengan ‘ujub, tidak akan
bernilai di sisi Allah.

Sesering apa pun ibadah kita, akan sia-sia, jika di dalam hati terdapat
sejengkal ruang ‘ujub maka sia-sia apa yang telah kita lakukan. Hal ini
makin menguatkan, segala yang dikaruniakan kepada kita, baik jabatan, harta,
atau ilmu, adalah ujian. Barang siapa tetap rendah hati dengan segala
keutamaan yang dimiliki, maka kedudukannya makin tinggi, baik di mata
manusia maupun di sisi Allah. Tapi, bagi hamba yang ‘ujub, keutamaan
tersebut menjadi kerendahan.

Maka, tak berlebihan bila Ali menyebut lebih baik perbuatan tercela, tapi
bisa menjadikan kita gundah dan bertobat. Rasa menyesal mendorong kita
selalu menghindari cela. Dan memang begitu rendah, perbuatan terpuji, tapi
berbuah kesombongan dan kecongkakan sehingga hati semakin ‘sakit’ dan susah
ditembus oleh nasihat bijak. Na’udzu billahi min dzalika. (Moch Aly Taufiq )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: